Archive for the ‘Events’ Category

h1

Ich Liebe meiner Mutter ” Tulisan untuk Ummi tercinta

December 22, 2010

Ich Liebe meiner Mutter

Untuk semua yang mencintai Ibu.

Tafakur Alam ROHIS SMAN 42 pagi pertama diawali dengan muhasabah. Dipagi buta sehabis sholat tahajjud dan witir. Aku berusaha untuk tidak tertidur, dan menghilangkan rasa kantukku. Lagipula aku berniat mengikuti seluruh acara Tafakur Alam ini memang untuk merubah keadaanku.

Muhasabah, sudah berpuluh-puluh kali aku mengikuti acara seperti ini, sejak SD sampai sekarang. Dan aku bisa mudah menebak apa topiknya, pasti berhubungan dengan orang tua. Tetapi kali ini aku akan menyiapkan air mataku untuk menangis dan mendalami setiap kata yang diucapkan narasumber. Aku ingin muhasabah ini tidak seperti muhasabah-muhasabah sebelumnya, haruslah berharga dan sebagai batu loncatan yang tidak fana.

Pembawa muhasabah bukanlah kak Tomo seperti muhasabah-muhasabah sebelumnya yang kuikuti selama menjadi anggota rohis SMAN42. Kali ini orangnya berbeda. Dia membawakannya agak lebih baik daripada kak Tomo, atau memang aku yang merasakan perbedaan ini kerena aku benar-benar menganggap muhasabah ini serius? Tidak tahu.

Pertama narasumber menunjukkan video tentang ibu yang pernah kulihat bersama teman rohis sebelumnya, lalu video-video tentang ibu selanjutnya.

Power point dibuka, lalu bermunculan berbagai macam slide. Menceritakan proses ibu mengandung kita. Ingatanku agak buyar apakah itu dengan power point atau video. Tapi proses terbentuknya manusia (kita sebagai anak) dalam rahim ibu kita. Dari menempelnya zigot di rahim, lalu sel terus berdiferensiasi, dari embrio sampai menjadi janin. Lalu dalam bulan-bulan terakhir yang kita sudah sempurna alat indera dan alat gerak, yang secara tidak sadar kita menendang-nendang rahim ibu. Aku memejamkan mataku dan membayangkan bagaimana rasa sakitnya Ummi (panggilanku untuk Ibuku) saat mengandungku. Ummi membawaku selama 9 bulan dalam rahimnya, dan berusaha sebaik mungkin agar aku tidak cacat saat tiba di dunia. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya itu, mempunyai sesuatu yang akan hidup suatu saat di dalam perut, pasti bebannya itu berat sekali.

Saat dilihatkan bagaimana ibu melahirkan. Aku merintih dan merasa air mataku keluar. Aku kini menghargai bagaimana perjuangan ibu itu. Sangat menghargai, aku akan simpan itu semua di otak.

Setelah semua itu selesai, slide dimatikan, lalu ruangan menjadi gelap, terdengar music Kintaro dari laptop narasumber, dan muhasabah pun dimulai.

Aku termenung, memejamkan mataku setiap narasumber berkata, meresapi kata-katanya satu persatu, lalu membayangkannya lewat pikiran.

Aku menangis sesenggukan saat Ummi berjuang untuk mengandung, lalu melahirkan ku di dunia. Aku menangis sesenggukan saat Ummi membesarkanku menjadi manusia berkepribadian sekarang ini. Aku menangis sesenggukan saat mengingat aku sering melawannya, berkata “Ahh!” lalu tidak mendengar nasihatnya. Aku kini tahu bagaimana rasanya Ummi, yang telah membesarkanku dengan perjuangan selama 16 tahun, ketika melihat anaknya suka melawan perkataannya. Sakit hati, ya, mungkin dalam pikirannya dia benar-benar tidak berharap anaknya mempunyai kepribadian seperti itu.

Tetapi Ummi tetap sabar, dia tetap tersenyum dan suka mengajakku bercanda, dia juga sering mengantarku ke sekolah, mencarikan barangku, lalu mendengar curhatku. Ibu yang baik yang berbeda dengan ibu-ibu sebagai wanita karier yang masih bisa meluangkan waktunya untukku.

Aku semakin menangis sesenggukan saat membayangkan kalau nanti pulang aku tidak dapat bertemunya lagi.

Ya aku memutuskan untuk merubah sikapku dihadapan Ummi dan menjadi anak sholihah yang dapat membanggakannya. Aku akan berusaha membanggakan mereka (Abbi juga) lewat prestasiku. Aku akan berusaha yang terbaik walaupun kepuasan saat mereka menerima raporku tidak terekspresikan dengan yang aku harapkan.

Aku akan melayani Ummi dengan lebih baik, aku tidak akan berkata “Ahh!” lebih lanjut. Dan sejak itu pun aku terus mendoakan agar orang tuaku mendapatkan panjang umur. Agar kita semua bisa berada di surga kelak.

Kematian, subjek ini telah melekat di otakku karena membacakan sebuah buku yang kupinjamkan dari temanku.

Kematian tidak memandang siapa saja, setiap orang bisa mati setiap waktu. Kematian tidak dapat diprediksi atau ditawar.

Siangnya aku mengirim sms kepada Ummi, lalu aku lega dia masih baik-baik saja, dia menjawab pesanku. Lalu aku terus mengiriminya pesan hingga malam hari saat menonton pertandingan sepakbola bersama semuanya.

Aku sungguh kangen kepadanya. Aku ingin melihatnya lagi.

Hari ketiga, aku minta dijemput nanti saat sampai di SMAN 42.

Aku lega saat dia datang dengan mobil cherry QQ hitamnya lalu memarkirkannya di depan sekolah. Aku sungguh senang  bisa melihatnya tersenyum lagi.

Tetapi menjadi anak yang diharapkan itu susah. Susah sekali untuk merubah sikapku. Suaraku di rumah yang bisa dibilang seperti teriakan yang menggema, lalu perkataan “Ahh!” yang masih melekat. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa mengatakan, “Ich liebe meiner Mutter,” secara jelas, langsung di depannya. Aku terlalu malu, aku terlalu sungkan. Kepribadianku yang cenderung tidak peka akan perasaan orang lain, yang cenderung egois ini sudah melekat padaku.

Mother’s Day ini.

Aku ingin menghadiahkannya sesuatu. Tapi Apa. Aku hanya bisa menghasilkan tulisan ini, unek-unek yang cenderung tidak jelas. Tapi aku mencintaimu Ummi. Ich liebe dich; Mutter, Aishiteru okaasan, Te quiero mama. Aku tidak bisa hidup tanpa Ummi. Aku masihlah anak kecil yang suka meminta dan menyuruh. Aku ingin menjadi lebih mandiri, aku ingin membahagiakan Ummi. Saat kemandirian itu pun tiba aku akan terus memuliakan Ummi. Lebih dari apapun.

Happy Mother’s Day everyone~!

h1

Thoughts compilation of Mother’s Day

December 23, 2009

Mother’s day is full of love!

lets express our love to our mom!

Happy mothers day everyone!

Thanks for sharing your thoughts to me from twitter.

see full image here